Mendengar nama Fitri Suryani, masyarakat Mataram, Nusa Tenggara Barat, kini pasti langsung mengingat kesuksesannya mengelola salah satu rumah potong ayam terbesar di kota tersebut. Tapi siapa sangka, perjalanan sukses Fitri bermula dari keinginan sederhana untuk membantu ekonomi keluarga. Dengan modal terbatas dan tekad yang kuat, ia berhasil membangun bisnis yang bukan hanya memberi manfaat bagi keluarganya, namun juga masyarakat sekitar.
Fitri Suryani lahir di lingkungan keluarga sederhana di Mataram. Setelah menamatkan pendidikan menengah, ia sempat bekerja sebagai pegawai di toko sembako. Namun, penghasilan yang diperoleh belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Ia pun mulai berpikir untuk memulai usaha sendiri.
Di tahun 2015, Fitri melihat peluang bisnis dalam bidang peternakan dan pemotongan ayam. Ia sadar, kebutuhan ayam potong di Mataram dan sekitarnya sangat tinggi, terutama menjelang hari-hari besar. Dengan mengumpulkan modal seadanya dan meminjam sebagian dari saudara, Fitri memberanikan diri membuka sebuah kios kecil di pinggiran Mataram yang melayani pemotongan ayam secara tradisional.
Usaha yang baru dirintis tentunya tidak selalu berjalan mulus. Di awal, Fitri menghadapi beberapa kendala seperti:
Namun Fitri tidak patah semangat. Ia rajin mencari ilmu dan mengikuti pelatihan-pelatihan UMKM dari Dinas Peternakan Kota Mataram. Ia belajar tentang cara menjaga kebersihan, pengemasan, hingga teknik promosi di era digital.
Setelah berjalan satu tahun, usahanya mulai merasakan dampak positif. Fitri mampu membeli alat potong modern yang mempercepat proses dan meningkatkan kualitas kebersihan produk. Tidak hanya itu, ia juga mulai mengembangkan layanan antar ayam segar ke pelanggan serta restoran-restoran di sekitar Mataram.
Rumah Potong Ayam "Fitri Suryani", nama yang ia pilih, dikenal berkat komitmennya pada kebersihan, pelayanan ramah, serta harga bersaing. Ia juga memperhatikan kesejahteraan karyawan dengan memberikan pelatihan kerja serta insentif.
Fitri tidak hanya berfokus mencari keuntungan sendiri. Ia juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar, terutama ibu-ibu rumah tangga dan pemuda yang membutuhkan pekerjaan. Setidaknya terdapat 15 karyawan tetap yang sekarang bergantung pada usaha rumah potong ayam milik Fitri.
Ia juga bekerjasama dengan peternak ayam lokal, membantu mereka mendapatkan harga yang adil dan pasar yang pasti. Limbah hasil pemotongan ayam dimanfaatkan sebagai pupuk dan pakan ternak sehingga tidak mencemari lingkungan.
Menurut Fitri, kunci utama keberhasilannya terletak pada kejujuran, kerja keras, dan keinginan untuk terus belajar. Ia selalu mendengarkan masukan pelanggan dan cepat beradaptasi dengan perubahan. Ia tidak ragu berinvestasi dalam peralatan modern serta memanfaatkan media sosial untuk promosi usaha. Beberapa strategi yang ia terapkan antara lain:
Berkat kerja keras dan konsistensinya dalam menjaga kualitas, usaha rumah potong ayam yang dirintis oleh Fitri kini menjadi salah satu yang terbesar di wilayah Mataram. Setiap hari, ratusan ekor ayam dipotong dan didistribusikan ke berbagai penjual, restoran, hingga hotel di NTB. Fitri juga beberapa kali menerima penghargaan dari pemerintah daerah atas kontribusinya dalam menciptakan lapangan kerja dan memberdayakan masyarakat.
Perjalanan hidup Fitri Suryani membuktikan bahwa siapa pun bisa sukses asal mau berusaha dan tidak mudah menyerah. Kesuksesan ini bukan hasil instan, tapi buah dari kerja keras bertahun-tahun serta keinginan untuk selalu berinovasi.
Fitri berharap kisahnya bisa menginspirasi pemuda dan pemudi di Mataram maupun daerah lain. Ia berpesan, jangan takut untuk memulai usaha, meskipun dengan modal minim dan keterbatasan. Yang terpenting adalah niat yang kuat, kejujuran, dan komitmen untuk terus belajar serta beradaptasi dengan zaman.
Kisah Fitri Suryani dan Rumah Potong Ayam di Mataram, Nusa Tenggara Barat, menjadi bukti nyata bahwa dengan semangat, kerja keras, dan kemauan belajar, siapa pun mampu mengubah nasib. Tidak hanya berhasil dari segi finansial, Fitri juga memberikan dampak sosial yang luas di lingkungannya. Sukses bukan hanya milik orang beruntung, melainkan milik mereka yang berani mencoba dan pantang menyerah.