Baiq Dinda lahir dan besar di Mataram, sebuah kota yang menjadi pusat kehidupan di Pulau Lombok. Dari kecil, Dinda telah memiliki kecintaan terhadap buku dan ilmu pengetahuan. Namun, akses buku di Mataram sangat terbatas, sehingga ia sering kesulitan mencari bahan bacaan yang berkualitas. Hal yang dianggap Dinda sebagai tantangan awal justru menjadi pemicu semangatnya untuk berkontribusi bagi dunia literasi di daerahnya.
Setelah menamatkan pendidikan di fakultas ekonomi Universitas Mataram, Dinda tidak langsung bekerja di perusahaan besar. Ia memilih untuk membangun usaha sendiri, meskipun risikonya tinggi. Dengan modal tabungan dan dukungan keluarga, Dinda mulai merintis Toko Buku Baiq pada tahun 2018 di pusat Kota Mataram.
Pada awal operasional, toko buku Dinda hanya menyediakan koleksi buku terbatas dan banyak di antaranya merupakan buku bekas. Ia memanfaatkan jejaring online dan media sosial untuk mencari buku dari luar NTB, serta menjual buku secara daring. Toko yang sederhana, terletak di sekitar kampus, cepat dikenal oleh mahasiswa dan pelajar yang membutuhkan akses buku harga terjangkau.
Namun, tantangan yang harus dihadapi tidak sedikit. Selain keterbatasan modal dan stok barang, Dinda juga dihadapkan pada budaya membaca yang belum melekat di masyarakat. Penjualan buku belum cukup untuk menutupi biaya operasional. Karena itu, Dinda mulai mengadakan berbagai kegiatan, seperti diskusi literasi, kelas menulis, dan bedah buku. Kegiatan tersebut menjadi magnet bagi komunitas pemuda, pelajar, dan pecinta buku di Mataram.
Melihat antusiasme yang tumbuh di komunitas, Dinda menambah variasi produk di tokonya, mulai dari peralatan tulis, merchandise bertema literasi, hingga menyediakan ruang baca gratis bagi pengunjung. Ia juga memperluas promosi melalui media sosial, membuat blog review buku, dan membuka toko buku online. Berkat kesungguhan dan inovasi, Toko Buku Baiq berkembang pesat, bahkan mendapat dukungan dari pemerintah kota melalui program literasi.
Dampak kehadiran Toko Buku Baiq tidak hanya pada bisnis, tetapi juga pada masyarakat Mataram secara umum. Jumlah pengunjung toko meningkat, komunitas literasi berkembang, dan budaya membaca mulai menguat di kalangan pelajar dan mahasiswa. Dinda menginspirasi banyak perempuan muda untuk berwirausaha dan membuktikan bahwa usaha lokal bisa tumbuh dengan inovasi.
Baiq Dinda juga aktif mengajak masyarakat untuk mendonasikan buku. Program “Sedekah Buku” yang diinisiasinya telah menyumbangkan ribuan buku ke sekolah-sekolah di pelosok NTB. Usaha Dinda menunjukkan bahwa bisnis bisa menjadi sarana untuk memberikan dampak positif bagi pendidikan dan pembangunan masyarakat.
Tidak mudah membangun toko buku di daerah yang akses bacaan masih terbatas. Di awal perjalanan, Dinda sering mengalami kesulitan distribusi, biaya pengiriman buku ke NTB yang mahal, dan minimnya minat membaca. Namun, ia tidak menyerah. Ia terus mencari solusi, seperti menggalang komunitas, mengadakan penggalangan dana, dan membuat program baca gratis bagi anak-anak.
Dukungan dari keluarga dan komunitas lokal menjadi semangat tersendiri bagi Dinda. Ia menanamkan nilai bahwa toko buku bukan hanya tempat jual beli, tapi ruang tumbuh dan membangun masa depan bersama. Banyak anak muda yang akhirnya terinspirasi untuk bekerja dan berkontribusi di dunia literasi setelah mengenal Toko Buku Baiq.
Baiq Dinda terus bermimpi agar literasi menjadi bagian dari kultur masyarakat NTB. Ia ingin Toko Buku Baiq semakin mewadahi kebutuhan bacaan dan pengembangan komunitas, serta mengembangkan cabang di Bima dan Sumbawa. Dinda percaya bahwa keberhasilan toko buku tidak hanya diukur dari jumlah penjualan, tetapi juga dari seberapa besar dampak sosial yang diberikan.
Ia berharap pemerintah dan sektor swasta dapat semakin mendukung literasi. Dinda ingin menekankan bahwa investasi pada pendidikan dan buku akan menghasilkan generasi yang lebih siap menghadapi tantangan zaman.
Kisah sukses Baiq Dinda dan Toko Buku Baiq di Mataram merupakan gambaran nyata bahwa usaha lokal bisa maju dengan semangat dan inovasi. Dedikasi Dinda dalam memperjuangkan literasi telah mengubah pola pikir masyarakat dan memberikan harapan baru bagi pendidikan di Nusa Tenggara Barat.
Melalui berbagai kegiatan, kolaborasi, dan program sosial, Dinda tidak hanya membangun toko buku, namun juga membangun komunitas yang peduli literasi. Kisahnya menginspirasi banyak orang untuk percaya bahwa mimpi bisa diwujudkan, selama ada usaha dan tujuan mulia di dalamnya.