H. Qomarudin berasal dari Mataram, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat. Ia dikenal sebagai pengusaha sosial yang cerdas dan tekun dalam mendalami isu lingkungan, terutama pengolahan limbah. Awalnya, ia menyaksikan langsung bagaimana limbah domestik dan industri di Mataram menumpuk, menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan, kebersihan lingkungan, dan keindahan Kota Mataram. Kondisi ini membuatnya terpanggil untuk melakukan perubahan.
Pada tahun 2009, H. Qomarudin mulai menggagas usaha pengolahan limbah dengan modal seadanya dan dukungan keluarga. Dengan tekad kuat, ia mempelajari teknik pengelolaan limbah organik dan non-organik serta mencari solusi pemasaran hasil produk daur ulang. Kesulitannya terbukti bukan hanya pada masalah teknis, tapi juga pada perubahan pola pikir masyarakat sekitar yang belum terbiasa memilah dan mengelola sampah dengan baik.
H. Qomarudin mengembangkan beberapa metode pengolahan limbah yang efektif dan ramah lingkungan, antara lain:
Selain itu, ia membangun jaringan dengan penggerak lingkungan lain dan menggandeng pemerintah kota Mataram dalam program pengelolaan sampah terpadu. Kolaborasi ini membuat pengolahan limbah menjadi bagian dari budaya masyarakat Mataram.
Usaha pengolahan limbah yang didirikan H. Qomarudin bukan hanya membantu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi warga lokal. Puluhan orang dari berbagai usia dan latar belakang kini bergabung sebagai pekerja dan mitra usaha, mulai dari pemilahan limbah, produksi pupuk dan kerajinan, hingga pemasaran produk.
Produk daur ulang yang dihasilkan telah menembus pasar lokal dan luar daerah, seperti Bali dan Surabaya. Permintaan pupuk kompos dan produk kerajinan semakin meningkat, terutama dari sektor pertanian, perkebunan, dan pariwisata. Nilai ekonomis dari limbah yang dulu dianggap tidak berguna kini menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.
H. Qomarudin juga mengelola program "Bank Sampah" yang memungkinkan warga menabung sampah dan menukarkannya dengan uang atau barang kebutuhan. Sistem ini memperkuat budaya daur ulang sekaligus meningkatkan ekonomi rumah tangga.
Dedikasi H. Qomarudin dalam pengolahan limbah membuatnya meraih berbagai penghargaan tingkat daerah dan nasional:
Pengakuan ini menjadi inspirasi bagi banyak pelaku usaha dan generasi muda untuk berkontribusi pada pelestarian lingkungan.
Tidak mudah mengubah kebiasaan masyarakat dalam membuang sampah. Tantangan yang dihadapi antara lain minimnya kesadaran lingkungan, keterbatasan modal, dan teknologi pengolahan limbah. Untuk mengatasinya, H. Qomarudin menerapkan beberapa strategi:
Usaha yang gigih dan konsisten membuahkan perubahan, di mana warga Mataram mulai terbiasa memilah sampah dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.
Kisah H. Qomarudin menjadi contoh bahwa setiap masalah bisa menjadi peluang jika diatasi dengan inovasi dan ketekunan. Pengolahan limbah di Mataram kini bukan hanya solusi lingkungan, tetapi juga penggerak ekonomi daerah. Komunitas yang terbentuk dari usaha pengolahan limbah semakin mempererat hubungan sosial dan memperkuat semangat gotong royong.
Harapan H. Qomarudin adalah terciptanya Mataram sebagai kota hijau yang bebas sampah, serta makin banyak generasi muda yang tertarik mengembangkan usaha lingkungan. Ia percaya bahwa keberlanjutan hanya bisa dicapai jika masyarakat mau berubah, berkolaborasi, dan terus berinovasi.
Upaya ini juga menjadi bagian dari visi NTB sebagai provinsi ramah lingkungan, sekaligus mendukung program nasional Indonesia Bersih dan pengurangan sampah plastik. Pemerintah dan swasta mulai meniru model pengelolaan limbah yang dikembangkan olehnya, sehingga dampak positif tidak hanya dirasakan di Mataram, tetapi di seluruh NTB.
Kisah sukses H. Qomarudin dan pengolahan limbah di Mataram NTB membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan mampu menciptakan peluang ekonomi, memperkuat kehidupan sosial, serta memberikan kontribusi nyata dalam menjaga kelestarian alam. Dengan semangat dan ketekunan, ia berhasil mengubah tantangan menjadi keberhasilan yang berdampak luas. Kisah ini diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia untuk melakukan hal serupa di lingkungan masing-masing.